dc.description.abstract | Penelitian ini membahas mengenai upaya Turki dalam memperoleh dan mengembangkan sistem rudal anti-pesawat S-400 Triumf. Dalam memperoleh sistem rudal anti-pesawat tersebut, Turki menjalin hubungan kerja sama dengan Rusia. Hal tersebut menjadi sorotan dalam komunitas internasional, terutama bagi koalisi NATO dan Amerika Serikat. Permasalahan yang dibahas secara mendalam dalam penelitian ini adalah apa saja faktor-faktor yang membuat Turki menjalin hubungan kerja sama dengan Rusia untuk mendapatkan sistem rudal anti-pesawat S-400 Triumf. Sebagai anggota koalisi NATO, Turki memiliki kewajiban untuk memiliki visi yang sama dengan negara-negara anggota koalisi NATO lainnya, yaitu untuk saling melindungi masing-masing dari ancaman Rusia. Hubungan kerja sama yang terjalin antara Turki dan Rusia menimbulkan isu bagi koalisi NATO dan Amerika Serikat, yang kemudian berdampak pula pada hubungan diplomatik antara Turki dan kedua aktor tersebut. Penelitian ini akan dibahas dalam sudut pandang neorealisme, terutama dalam teori balance of threat. Teori balance of threat berupaya untuk menjelaskan mengapa negara menjalin hubungan kerja sama dengan negara lain di tengah sistem internasional yang bersifat anarkis dan masing-masing aktor bersikap independen dalam mencapai kepentingannya masing-masing. Penelitian ini ditulis dengan metode kualitatif dan menggunakan jenis penelitian berbasis studi kasus. Dalam memahami mengapa Turki menjalin hubungan kerja sama dengan Rusia dalam memperoleh dan mengembangkan sistem rudal anti-pesawat, menganalisis isu dan kasus geopolitik seputar kawasan Turki bersifat penting karena isu dan kasus geopolitik tersebut menjadi faktor-faktor yang memengaruhi Turki untuk menjalin kerja sama dengan Rusia. Oleh sebab itu, keputusan Turki untuk menjalin hubungan kerja sama dengan Rusia didasari oleh kepentingan Turki untuk melindungi diri dari berbagai isu di sekitar Turki. | en_US |