PEMETAAN JALUR EVAKUASI BENCANA TSUNAMI MENGGUNAKAN METODE NETWORK ANALYSIS BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) STUDI KASUS: KELURAHAN LERE, KOTA PALU, SULAWESI TENGAH
Abstract
Bencana tsunami yang terjadi pada 28 September 2018 di Kelurahan Lere, Kota Palu, Sulawesi Tengah, menyebabkan dampak signifikan terhadap infrastruktur, lingkungan, dan korban jiwa. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi jumlah korban adalah kurangnya jalur evakuasi yang optimal dan minimnya informasi terkait lokasi shelter yang aman. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memetakan jalur evakuasi tsunami menggunakan metode Network Analysis berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG), guna memberikan rekomendasi rute evakuasi yang efektif berdasarkan analisis spasial dan data bencana historis.Metode penelitian ini diawali dengan pengumpulan data, termasuk tata guna lahan, peta topografi, dan data historis tsunami dari katalog BMKG. Proses pemodelan dilakukan menggunakan Model Builder dalam perangkat lunak ArcGIS untuk menentukan area terdampak tsunami serta tingkat risiko bencana.Namun, hasil pemodelan tsunami yang telah dilakukan oleh peniliti dengan menggunakan Metode Berrymen yang diimplementasikan melalui Model Builder terjadi limitasi atau adanya batasan yang ada dalam metodologi atau data yang digunakan sehingga hasil akhir yang dihasilkan mempengaruhi pendekatan pemodelan inundasi tsunami yang terjadi di Kelurahan Lere. Selain itu, pemetaan jalur evakuasi dibuat berdasarkan pemodelan inundasi genangan tsunami dan titik shelter evakuasi didasrkan pada jangkauan kecepatan orang terlemah menurut Buna Marga yaitu 3.18 km/jam. Selain itu, penelitian ini melakukan penilaian terhadap kelayakan shelter berdasarkan kriteria jarak aman dari garis pantai, kapasitas daya tampung, dan aksesibilitas terhadap jaringan jalan utama. Hasil analisis menunjukkan bahwa shelter yang tersedia telah dievaluasi berdasarkan skor kelayakan yang mempertimbangkan faktor keamanan dan daya tampung. Peta Network Analysis yang dibuat dengan jaringan jalan yang ada yaitu jalan kolektor, jalan lokal dan jalan lingkungan dapat mengarahkan korban evakuasi dari bibir pantai menuju titik shelter yag dimana jalur tersebut tembus menuju jalan utama atau jalan kolektor. Meskipun penelitian ini memberikan solusi dalam perencanaan jalur evakuasi dan rekomendasi shelter, masih terdapat kendala seperti ketersediaan data citra terbaru dan validasi lapangan yang terbatas. Oleh karena itu, penelitian lanjutan diharapkan dapat mencakup survei langsung serta pemodelan yang lebih kompleks guna meningkatkan ketepatan jalur evakuasi di daerah rawan tsunami. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dan pemangku kebijakan dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat serta mengurangi risiko korban jiwa akibat bencana tsunami.