| dc.description.abstract | Kegiatan pemeliharaan pada sistem tenaga listrik berperan penting dalam menjaga keandalan operasi gardu induk, khususnya melalui metode thermovisi untuk mendeteksi adanya titik panas (hot point) pada peralatan tegangan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hasil pengukuran suhu menggunakan kamera inframerah FLIR E60 pada Gardu Induk 150 kV Pematang Siantar, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan titik panas dan tindak lanjut pemeliharaan yang sesuai. Pengukuran dilakukan selama dua hari pada kondisi arus operasi rata-rata 176 A dengan arus maksimum 255 A, menggunakan nilai emisivitas 0,30 untuk material aluminium H3C. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa selisih suhu (ΔT) antara sambungan klem dan konduktor berkisar antara 1–3 °C, yang masih berada di bawah ambang batas 10 °C sesuai standar PLN SK.DIR 520-2.K/DIR/2014, sehingga kondisi peralatan dapat dikategorikan aman. Perbedaan hasil antar hari lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu udara dan radiasi matahari dibanding perubahan resistansi kontak. Analisis menunjukkan bahwa nilai emisivitas, beban arus, dan kondisi permukaan logam berperan penting terhadap akurasi hasil pengukuran. Berdasarkan temuan tersebut, tindak lanjut yang direkomendasikan berupa pemantauan berkala dan pencatatan tren suhu untuk mendukung evaluasi kondisi peralatan secara berkelanjutan. | en_US |