Peran BNPP Sebagai Platform Sosial Dalam Membentuk Identitas Nasional dan Simbol Kehadiran Negara: Analisis Konstruktivis atas Perbatasan Indonesia–Papua Nugini
Abstract
Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) melalui pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw sebagai instrumen strategis dalam membentuk identitas nasional dan simbol kehadiran negara di perbatasan Indonesia–Papua Nugini (RI–PNG). Wilayah perbatasan Papua memiliki kompleksitas sosial-politik yang tinggi, terutama terkait isu keterisolasian, marjinalisasi, dan sentimen separatisme yang mengancam integrasi nasional. Dengan menggunakan teori konstruktivisme, laporan ini menjelaskan bagaimana identitas nasional dikonstruksi melalui interaksi, simbol, dan narasi yang dibentuk oleh negara di wilayah pinggiran.
Hasil analisis menunjukkan bahwa PLBN Skouw tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur fisik atau gerbang administratif, melainkan sebagai platform sosial yang memadukan aktivitas ekonomi, budaya, dan pelayanan publik. Kehadiran simbol-simbol negara yang megah, seperti bendera Merah Putih dan lambang Garuda, berfungsi sebagai media komunikasi non-verbal untuk menegaskan kedaulatan dan memberikan pengakuan negara terhadap masyarakat Papua. Melalui narasi pembangunan "Membangun dari Pinggiran", PLBN Skouw berhasil menciptakan ruang interaksi lintas batas yang meningkatkan kesejahteraan lokal dan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap NKRI. Kesimpulannya, PLBN Skouw merupakan medium integrasi sosial yang efektif untuk mengurangi jarak psikologis antara pemerintah pusat dan warga perbatasan serta memperkokoh kedaulatan mental di tanah Papua.
