| dc.description.abstract | Insiden kebakaran di Depo Pertamina Plumpang pada tahun 2023 merupakan krisis signifikan yang berdampak pada keselamatan masyarakat serta penurunan kepercayaan publik terhadap PT Pertamina (Persero). Tingginya atribusi tanggung jawab dalam krisis ini menuntut perusahaan untuk menerapkan strategi komunikasi krisis guna memulihkan reputasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi krisis Pertamina menggunakan kerangka Situational Crisis Communication Theory (SCCT) dengan metode penelitian kualitatif melalui wawancara mendalam (in-depth interview). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam merespons krisis, Pertamina memprioritaskan keselamatan publik, manajemen informasi yang terpusat dan konsisten, serta pemanfaatan media sosial untuk komunikasi dua arah yang empatik. Berdasarkan perspektif SCCT, temuan mengindikasikan bahwa Pertamina menerapkan kombinasi strategi utama, yaitu strategi rebuild dan bolstering. Strategi rebuild diimplementasikan melalui penyampaian permintaan maaf, pemberian kompensasi kepada korban, dan transparansi penanganan krisis. Sementara itu, strategi bolstering dilakukan dengan menekankan komitmen perusahaan terhadap perbaikan keselamatan berkelanjutan dan tanggung jawab sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi kedua strategi tersebut membentuk keselarasan antara besarnya tanggung jawab krisis yang diemban perusahaan dengan ekspektasi publik, yang menjadi faktor kunci dalam upaya pemulihan kepercayaan masyarakat. | en_US |