STRATEGI INDONESIA DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN INDUSTRI NIKEL MELALUI KERJA SAMA TRANSNASIONAL INDONESIA-CINA: KERJA SAMA PT ANEKA TAMBANG TBK DENGAN CONTEMPORARY AMPEREX TECHNOLOGY CO. LTD TAHUN 2020-2025
Date
2026-02Metadata
Show full item recordAbstract
Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia dengan kepemilikan cadangan yang sangat signifikan. Untuk meningkatkan nilai tambah dan memperkuat struktur industri nasional, pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan hilirisasi nikel sejak tahun 2020 dengan melarang ekspor bijih nikel mentah. Namun, implementasi kebijakan ini menghadapi tantangan besar, terutama keterbatasan modal, teknologi, dan infrastruktur industri. Dalam konteks tersebut, kerja sama internasional, khususnya dengan Cina, menjadi instrumen strategis dalam mendukung pengembangan industri nikel nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kerja sama transnasional antara PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dimanfaatkan sebagai instrumen strategis Indonesia dalam meningkatkan nilai tambah dan kemandirian industri nikel dalam hubungan Indonesia-Cina pada periode 2020-2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan dokumentasi melalui pemanfaatan data sekunder. Analisis dilakukan dengan menggunakan perspektif Complex Interdependence yang dikemukakan oleh Robert O. Keohane dan Joseph S. Nye, khususnya konsep interdependensi asimetris dan multiple channels. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerja sama antara PT Antam Tbk dan CATL berperan sebagai kerja sama transnasional yang memungkinkan Indonesia mengelola ketergantungan asimetris terhadap modal dan teknologi Cina, sekaligus memanfaatkan posisi tawar sebagai pemilik sumber daya nikel terbesar. Kerja sama ini tidak hanya berfungsi sebagai hubungan ekonomi semata, tetapi juga sebagai instrumen negara dalam mendorong hilirisasi terintegrasi, penguatan rantai nilai baterai kendaraan listrik, serta peningkatan kapasitas industri domestik. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa kemandirian industri nikel Indonesia bersifat relatif dan dikonstruksi melalui kebijakan negara yang memanfaatkan kerja sama transnasional untuk memperoleh absolute gains berupa peningkatan nilai tambah dan penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
