| dc.description.abstract | Perkembangan teknologi dan tuntutan efisiensi dalam rantai pasok global mendorong sektor pelabuhan untuk bertransformasi menuju sistem digital yang terintegrasi. Namun, sebagian besar pelabuhan di Indonesia, termasuk Integrated Terminal Wayame, masih menghadapi berbagai kendala dalam penerapan digitalisasi, khususnya pada proses pelayanan kapal yang masih dilakukan secara manual. Kondisi ini berdampak pada rendahnya efisiensi operasional dan tingginya nilai Integrated Port Time (IPT), terutama pada komponen waiting time seperti Waiting Jetty, Waiting Pilot, Waiting Line, dan Waiting Cargo Calculation. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kriteria dan subkriteria yang berpengaruh terhadap keberhasilan digitalisasi pelabuhan serta menentukan prioritas masing-masing faktor menggunakan metode Fuzzy Analytical Hierarchy Process (Fuzzy AHP). Data primer diperoleh melalui kuesioner perbandingan berpasangan yang melibatkan empat responden ahli yang terdiri dari manajemen pelabuhan, loading master, surveyor, dan pihak kapal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria Teknologi dan Sistem Digital (K1) memiliki prioritas tertinggi dengan bobot 59,88%, diikuti oleh Kesiapan Sumber Daya Manusia (K3) sebesar 34,51% dan Organisasi/Manajemen (K2) sebesar 8,70%. Subkriteria paling berpengaruh adalah Kompetensi Digital Pelaku Operasional (K3.1) sebesar 22,62%, Implementasi Sistem Informasi Pelabuhan Terintegrasi (K1.2) sebesar 19,24%, dan Penjadwalan Dermaga Berbasis ETA (K1.3) sebesar 15,34%. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan digitalisasi pelabuhan memerlukan sinergi antara pengembangan teknologi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta dukungan manajemen organisasi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan menurunkan waktu tunggu kapal di Integrated Terminal Wayame. | en_US |