| dc.description.abstract | Peningkatan throughput peti kemas di Terminal Petikemas (TPK) Koja menunjukkan pertumbuhan aktivitas operasional yang signifikan, dari 966.100 TEUs pada tahun 2023 menjadi 1.034.711 TEUs pada tahun berikutnya. Namun, peningkatan volume tersebut tidak diikuti oleh peningkatan produktivitas operasional, khususnya Box Crane per Hour (BCH) yang justru menurun pada tahun berjalan, sehingga berpotensi menurunkan efisiensi pelabuhan. Penelitian ini bertujuan merancang dan mengukur kinerja rantai pasok operasional TPK Koja untuk meningkatkan efisiensi pelabuhan. Metode yang digunakan adalah model Supply Chain Operations Reference (SCOR) yang terdiri dari tiga tingkat, yaitu proses utama, atribut kinerja, dan Key Performance Indicator (KPI). Berdasarkan studi literatur dan Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor HK/16, diidentifikasi delapan KPI yang divalidasi oleh pemangku kepentingan. Pembobotan KPI dilakukan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan bantuan Expert Choice, sedangkan normalisasi data menggunakan metode Snorm De Boer. Hasil pengukuran menunjukkan nilai kinerja total sebesar 78.34 yang berada pada kategori cukup baik. Meskipun demikian, beberapa KPI dengan bobot global tinggi, terutama Vessel Operating Rate (VOR), masih menunjukkan kinerja yang belum optimal. Temuan ini menegaskan perlunya peningkatan produktivitas alat, optimalisasi pemanfaatan aset, dan efisiensi waktu pelayanan untuk mendukung peningkatan efisiensi pelabuhan secara berkelanjutan. | en_US |