ANALISIS PENILAIAN DENGAN METODE “DRASTIC” UNTUK MENGIDENTIFIKASI KERENTANAN TERHADAP PENCEMARAN AIR TANAH DI DAERAH JAKARTA PUSAT
Abstract
Jakarta Pusat, sebagai pusat aktivitas perkotaan padat, menghadapi tekanan signifikan terhadap sumber daya air tanahnya. Peningkatan kepadatan penduduk dan aktivitas domestik maupun industri berpotensi tinggi menyebabkan pencemaran air tanah, sehingga identifikasi zona kerentanan menjadi esensial untuk pengelolaan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kerentanan air tanah terhadap pencemaran di Jakarta Pusat menggunakan metode DRASTIC serta mengidentifikasi karakteristik hidrogeologi yang mengontrolnya. Metode DRASTIC menilai tujuh parameter hidrogeologi: Depth to water (D), Recharge (R), Aquifer media (A), Soil media (S), Topography (T), Impact of vadose zone (I), dan Hydraulic Conductivity (C). Analisis ini diintegrasikan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk menghasilkan peta zonasi kerentanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi geologi, yang didominasi oleh endapan Kuarter Formasi Aluvium (Qa) dan Formasi Kipas Aluvium (Qav), merupakan faktor kontrol utama. Faktor-faktor dominan yang berkontribusi terhadap kerentanan adalah topografi yang sangat datar (lereng 0-2%), media akuifer permeabel (pasir, kerikil, dan batupasir tufan), serta tutupan lahan permukiman padat yang hampir menyeluruh (95%). Wilayah studi terklasifikasi menjadi dua zona: (1) Kerentanan Tinggi (Indeks 141–180), mencakup ±65% wilayah, terutama di area Formasi Qav (Kemayoran, Johar Baru, Cempaka Putih); dan (2) Kerentanan Sedang (Indeks 101–140), mencakup ±35% wilayah, terkonsentrasi di area Formasi Qa (Tanah Abang, sebagian Menteng), di mana keberadaan lapisan lempung pasiran memberikan proteksi alami yang lebih baik.
