Show simple item record

dc.contributor.authorJauzaa, Meuthya Noer
dc.date.accessioned2026-02-03T17:19:33Z
dc.date.available2026-02-03T17:19:33Z
dc.date.issued2026-02-02
dc.identifier.urihttps://library.universitaspertamina.ac.id//xmlui/handle/123456789/15364
dc.descriptionHasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa kegagalan dengan tingkat risiko tinggi pada proses pengadaan dan pengiriman barang proyek di PT Total Teknik Indonesia, khususnya ketidaksesuaian jumlah dan spesifikasi barang serta keterlambatan penyusunan ROM. Temuan ini sejalan dengan teori Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) yang dikemukakan oleh Stamatis (2003), yang menyatakan bahwa kegagalan dengan nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi harus menjadi prioritas utama dalam perbaikan proses karena berpotensi menimbulkan dampak signifikan terhadap kinerja sistem. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Prasetyo dan Vanany (2016) serta Kurniawan (2019) yang menyimpulkan bahwa perencanaan pengadaan yang kurang optimal dan lemahnya koordinasi antar pihak merupakan faktor dominan penyebab keterlambatan proyek konstruksi. Dengan demikian, penerapan FMEA dalam penelitian ini terbukti efektif sebagai alat identifikasi dan evaluasi risiko untuk meningkatkan keandalan proses logistik proyek.en_US
dc.description.abstractKeberhasilan proyek konstruksi sangat bergantung pada kelancaran proses pengadaan dan pengiriman material. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis potensi kegagalan dalam proses pengadaan dan pengiriman barang proyek di PT Total Teknik Indonesia menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara, dan studi dokumentasi pada proyek Camp Phoenix BP Tangguh Papua Barat. Hasil penelitian mengidentifikasi 30 jenis kegagalan potensial, dengan sepuluh di antaranya memiliki tingkat risiko tertinggi berdasarkan perhitungan Risk Priority Number (RPN). Tiga kegagalan paling kritis adalah: (1) Ketidaksesuaian jumlah dan jenis barang (RPN 594); (2) Barang tidak sesuai spesifikasi (RPN 586.67); dan (3) Pembuatan ROM terlalu mendekati waktu pelaksanaan (RPN 472). Analisis statistik menggunakan ANOVA One-Way mengonfirmasi tidak adanya perbedaan signifikan dalam penilaian risiko antar responden (pvalue 0.977 > α 0.05), yang memperkuat reliabilitas temuan. Berdasarkan hasil analisis, diajukan usulan perbaikan strategis yang meliputi: penerapan sistem verifikasi dua tahap, penyusunan timeline yang lebih awal, standardisasi kualifikasi vendor, dan peningkatan koordinasi lintas divisi. Implementasi rekomendasi ini diharapkan dapat meminimalkan risiko keterlambatan proyek, mengoptimalkan biaya logistik, dan meningkatkan kinerja rantai pasok perusahaan secara keseluruhan.en_US
dc.publisherMeuthya Noer Jauzaaen_US
dc.subjectFailure Mode and Effect Analysis, Manajemen Rantai Pasok, Pengadaan Proyek, Risiko Logistik, RPN.en_US
dc.titleIMPLEMENTASI METODE FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS (FMEA) PADA PROSES PENGADAAN DAN PENGIRIMAN BARANG PROYEK DI PT TOTAL TEKNIK INDONESIAen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record