| dc.description.abstract | Perubahan iklim global telah meningkatkan nilai strategis kawasan Arktik melalui
terbukanya Northern Sea Route (NSR) sebagai jalur pelayaran alternatif. Tiongkok,
sebagai aktor non-Arktik yang mengidentifikasi diri sebagai “negara dekat-Arktik,”
memperluas keterlibatannya melalui kebijakan Polar Silk Road (PSR) dalam
kerangka Belt and Road Initiative (BRI). Namun, keterlibatan tersebut berlangsung
dalam kondisi ketergantungan struktural terhadap Rusia yang memiliki kendali atas
akses hukum, infrastruktur, dan regulasi di sepanjang NSR. Penelitian kualitatif ini
bertujuan untuk menganalisis ketergantungan struktural Tiongkok terhadap Rusia
di kawasan Arktik pada periode 2018–2024 dalam perspektif teori complex
interdependence yang dikemukakan oleh Keohane dan Nye. Analisis difokuskan
pada konfigurasi interdependensi asimetris dalam isu oceans dan money, khususnya
terkait akses pelayaran, infrastruktur logistik, dan keterlibatan finansial dalam
proyek energi Arktik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi Tiongkok berada
pada tingkat high vulnerability akibat ketiadaan alternatif akses terhadap NSR dan
keterbatasan kontrol institusional, sementara Rusia memperoleh leverage struktural
melalui penguasaan rezim hukum dan infrastruktur. Dalam konteks ini, BRI dan
PSR tidak berfungsi sebagai instrumen untuk menghilangkan ketergantungan,
melainkan sebagai strategi adaptif untuk mengelola interdependensi melalui
pendalaman keterikatan ekonomi dan institusional, termasuk partisipasi dalam
proyek seperti Yamal LNG dan Arctic LNG 2. Penelitian ini menyimpulkan bahwa
hubungan Tiongkok–Rusia di Arktik merepresentasikan interdependensi asimetris
dalam kerangka complex interdependence, di mana kekuasaan dijalankan melalui
pengendalian struktur akses dan aturan, bukan melalui dominasi militer secara
langsung, serta menciptakan risiko ketergantungan politik jangka panjang bagi
Tiongkok. | en_US |