Rekonstruksi Lingkungan Purba Formasi Kabuh Berdasarkan Fosil Vertebrata, Sangiran, Jawa Tengah
Abstract
Penelitian pada Formasi Kabuh di Situs Sangiran merepresentasikan lingkungan pada Kala Pleistosen yang krusial untuk menunjukan evolusi habitat serta perkembangan fauna di pulau Jawa. Penelitian ini difokuskan pada rekonstruksi lingkungan purba Formasi Kabuh yang dibedakan menjadi satuan Kabuh Bawah dan Kabuh Atas melalui kajian fosil tulang gerak Bovidae dan Elephas. Pendekatan yang diterapkan mencakup analisis kualitatif-deskriptif terhadap karakter morfologi metapodial, femur, tibia, dan astragalus, serta analisis kuantitatif menggunakan Principal Component Analysis (PCA) guna mengidentifikasi pola variasi morfometrik yang berkaitan dengan adaptasi ekologis. Hasil kajian menunjukkan bahwa karakter morfologi Bovidae mengindikasikan kemampuan lokomosi yang cepat dan efisien pada lingkungan terbuka hingga semi-terbuka, sedangkan Elephas memperlihatkan adaptasi morfologi yang robust terhadap pergerakan di atas substrat keras hingga semi-padat khas dataran fluvial terbuka. Kabuh Bawah merefleksikan kondisi lingkungan yang relatif tertutup hingga campuran, ditandai oleh dominasi vegetasi hutan tropis lembap dan sistem fluvial bertipe meandering dengan energi aliran sedang. Sebaliknya, Kabuh Atas merekam perkembangan lingkungan yang lebih terbuka berupa sabana dan dataran aluvial, dengan sistem sungai berenergi lebih tinggi yang cenderung berkembang menjadi pola braided. Secara keseluruhan, rekonstruksi ini mengindikasikan terjadinya pergeseran lingkungan dari hutan menuju sabana terbuka yang dipengaruhi oleh fluktuasi iklim glasial–interglasial Pleistosen, yang berperan signifikan dalam pembentukan habitat fauna besar di kawasan Sangiran, Jawa Tengah.
