Analisis Genangan Banjir Akibat Perubahan Iklim Pada DAS Ciliwung Dengan menggunakan 5 Dataset Model CMIP6
Abstract
Indonesia merupakan negara yang memiliki 2 musim yaitu kemarau dan hujan, musim
hujan di Indonesia ini sering menyebabkan bencana banjir contohnya di kota Jakarta. Banjir
juga sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim yang dimana perubahan iklim berdampak pada
peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan dan terjadinya peristiwa ekstrem seperti banjir
dan kekeringan Seiring dengan meningkatnya ancaman perubahan iklim global, pola cuaca
yang lebih ekstrem diprediksi akan memperburuk dampak banjir di berbagai wilayah, termasuk
Jakarta secara khusus pada DAS Ciliwung. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan
perbandingan curah hujan eksisting dan curah hujan skenario perubahan iklim serta melakukan
pemodelan genangan banjir dengan skenario dan tanpa skenario perubahan iklim pada DAS
Ciliwung dengan menggunakan software HEC-RAS. Pada penelitian ini data perubahan iklim
yang digunakan berjumlah 5 yaitu AWI-ESM-1-REcoM, CESM2-WACCM, CMCC- ESM2,
NESM3 dan MRI-ESM 2-0. Data data tersebut merupakan model Global Climate Model
(GCM). Curah hujan output GCM diolah terlebih dahulu dengan teknik statistical downscaling
untuk diregionalisasi berdasarkan tempat yang ditinjau. Selanjutnya curah hujan proyeksi
tersebut dikoreksi terlebih dahulu dengan Quantile Mapping Correction. Setelah data tersebut
dikoreksi selanjutnya akan dilakukan analisis hidrologi untuk mendapatkan curah hujan jam
jaman. Setelah itu data curah hujan jam-jamannya akan diinput kedalam software HEC-HMS
untuk mendapatkan debit banjir rencana. Debit banjir yang telah didapatkan akan dimodelkan
menggunakan software HEC-RAS. Berdasarkan pemodelan yang telah dilakukan dapat
diketahui bahwa nilai luas genangan banjir untuk setiap skenario berbeda-beda. Pada kala ulang
5 tahun, luasan genangan banjir kondisi proyeksi melebihi luasan genangan banjir kondisi
observasi yang mengindikasikan adanya peningkatan potensi banjir pada kejadian hujan dengan
periode ulang rendah. Sedangkan pada kala ulang 50 tahun, terjadi peningkatan luas genangan
banjir yang signifikan di salah satu dataset yaitu CESM2-WACCM Hal ini mengindikasikan
adanya variasi respons antar model terhadap kejadian ekstrem, serta menunjukkan bahwa
pemilihan model GCM berpengaruh signifikan terhadap hasil proyeksi luasan genangan.
