Analisis Kinerja Produksi dengan Penerapan Liquid Constraint Menggunakan Metode Pemodelan Lapangan Terintegrasi (IPM)
Abstract
Lapangan minyak yang telah memasuki fase produksi lanjut umumnya menghadapi penurunan tekanan reservoir, peningkatan produksi air, serta keterbatasan kapasitas fasilitas permukaan. Kondisi tersebut menyebabkan potensi produksi reservoir tidak selalu dapat direalisasikan secara optimal, sehingga diperlukan pendekatan analisis yang mampu menggambarkan interaksi antara reservoir, sumur, dan fasilitas permukaan secara terintegrasi. Integrated Production Modeling (IPM) merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja sistem produksi lapangan secara menyeluruh dan realistis.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja produksi Lapangan X pada skenario pengembangan dengan penerapan liquid constraint menggunakan pendekatan IPM. Pemodelan reservoir dilakukan menggunakan MBAL untuk mengevaluasi karakteristik reservoir dan perilaku tekanan, sedangkan pemodelan sumur dilakukan menggunakan PROSPER untuk menganalisis performa aliran sumur. Selanjutnya, seluruh model diintegrasikan ke dalam GAP untuk membangun model lapangan terintegrasi dan menyimulasikan kondisi produksi tanpa batasan serta kondisi dengan liquid constraint akibat keterbatasan kapasitas separator selama enam bulan awal produksi.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa penerapan liquid constraint menyebabkan perlunya pengaturan choke pada masing-masing sumur dan penutupan sementara pada sumur tertentu guna menjaga laju fluida total tetap berada dalam batas kapasitas fasilitas. Kondisi ini berdampak pada penurunan produksi minyak kumulatif dibandingkan dengan skenario tanpa batasan. Selain itu, hasil perhitungan recovery factor pada masing-masing reservoir menunjukkan adanya penurunan nilai akibat keterbatasan fasilitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan IPM efektif dalam mengevaluasi kinerja produksi lapangan dan mendukung pengambilan keputusan teknis pada kondisi keterbatasan fasilitas.
